Saudaraku yang baik hati, setelah memahami makna shalat dan menyadari bahwa selama shalat Allah SWt melihat dan mendengar orang yang shalat. Selanjutnya adalah memahami cara mempersembahkan dalam shalat. Bagi saudaraku yang masih awam dengan masalah khusyu’ dalam shalat, cara mempersembahkan dalam shalat adalah hal yang sangat penting dan merupakan titik penentu jalan menuju khusyu’ dalam shalat.

A. Mempersembahkan niat.

Masalah niat telah kita bahas dalam pembahasan tentang tuntunan shalat. Di dalam berniat, ada dua hal yang menjadi hal yang utama untuk diperhatikan, yaitu:

  1. Keinginan untuk melakukan suatu ibadah, seperti yang dikatakan oleh Saikh Said bin Ali Al-Aqathani mendefinisikan niat adalah keinginan untuk melakukan ibadah sebagai pendekatan diri kepada Allah SWT
  2. Ikhlas semata-mata untuk mengharap ridho Allah SWT. Ada banyak pendapat para ulama dalam mendefiniskan tentang ikhlas. Namun untuk mempermudah dalam mengamalkan ikhlas, keikhlasan dalam beribadah dapat diukur dengan empat hal yang harus dipenuhi, yaitu:
  • Mematahkan keinginan nafsu (beribadah tidak disertai dengan nafsu). Nafsu dimaksud adalah nafsu yang merusak keihklasan.
  • Melenyapkan harapan dunia. Niat yang ikhlas jangan dicampur dengan harapan dunia. Karena setiap niat ibadah disertai dengan harapan dunia, maka Allah SWT akan mencukupkan balasan ibadah tersebut dengan harapan dunia yang dimaksudkan oleh yang melakukan ibadah. Sehingga ibadah tersebut tidak mendapatkan pahala.
  • Mengharapkan ridho Allah SWT. Setiap ibadah hendaknya berniat hanya mengharapkan ridho (diterima) Allah SWT dan tidak dicampuri dengan nafsu dan harapan dunia .
  • Mengharapkan keselamatan akhirat. Dengan niat mengaharapkan keselamatan akhirat akan menghadirkan keihklasan dalam beramal dan harapan mendapat balasan kebaikan di akhirat.

Saudaraku yang baik hati, Imam Syafi’i dan Syekh Abdul-Aziz bin Baz rahimakumullah menyatakan bahwa niat dilakukan pada saat takbir. Tetapi untuk mendapatkan kekhusyu’an dalam shalat, kita sudah mempersiapkan diri sebelum memulai shalat. Untuk mempersembahkan niat lakukanlah:

  1. Berdiri lurus dengan pandangan ke arah tempat sujud (tidak memejamkan mata)
  2. Menyadari dari bahwa kita sedang menghadap Allah SWT yang Maha Suci dan Maha Agung. Maka berdirilah menghadap Allah SWT dengan merendahkan diri dan merasa hina di hadapan Allah SWT.
  3. Menyadari bahwa diri kita saat itu sedang diperhatikan Allah SWT dari atas Arsy.
  4. Hadirkan dalam hati keempat makna ikhlas di atas dan yakinilah bahwa Allah SWT melihat dan mengetahui apa yang ada di dalam hati kita saat itu.
  5. Pasang niat shalat dengan menghadirkan niat dalam hati dan persembahkan niat tersebut ke hadirat Allah SWT, disertai dengan melakukan takbiratul ihram.

Pastikan bahwa hati kita telah mempersembahkan niat shalat yang dibungkus dengan empat makna ikhlas tersebut, sampai hati mengakui dan membenarkan telah mempersembahkan niat shalat kepada Allah SWT.

B. Mempersembahkan gerakan shalat

Saudaraku yang baik hati, yang sering kita baca atau kita dengar adalah bagaimana gerakan dalam shalat, seperti yang telah kita bahas dalam tuntunan shalat. Tetapi tidak dibahas bagaimana mempersembahkan gerakan dalam shalat. Contoh, jika yang dibahas tentang gerakan ruku’, maka yang akan dijelaskan adalah bagaimana gerakan fisik dalam rukuk. Tetapi jika yang dibahas adalah bagaimana mempersembahkan ruku’, maka hal ini selain membahas gerakan ruku’ tetapi juga peran hati dalam mempersembahkan ruku’. Hati mempersembahkan gerakan shalat ke hadirat Allah SWT sesaat sebelum membaca bacaan shalat. Bagaimana caranya ? :

  1. Menyadari bahwa gerakan shalat yang kita lakukan diperhatikan oleh Allah SWT, sehingga kita akan melakukan gerakan shalat dengan cara yang terbaik dan tidak terburu-buru.
  2. Lakukan gerakan sampai pada posisi yang tenang (thumakninah), hati merasakan dan mempersembahkan gerakan tersebut ke hadirat Allah SWT dan berharap gerakan shalat yang kita lakukan tersebut Allah SWT rihdo atau berkenan menerimanya.
  3. Setelah selesai membaca bacaan dengan tenang, lakukan gerakan berikutnya.
  4. Jangan ada satu gerakan pun dalam shalat yang luput dari persembahan yang dilakukan oleh hati ke hadirat Allah SWT.

C. Mempersembahkan ucapan/ bacaan shalat

Saudaraku yang baik hati, mempersembahkan ucapan/bacaan shalat merupakan inti dari khusyu’ dalam shalat. Karena ucapan/bacaan lah yang membuat seseorang hatinya larut dalam menghadap kepada Tuhannya. Mempersembahkan ucapan/bacaan shalat yang dimaksud ini membutuhkan waktu untuk belajar hingga mencapai persembahan yang sempurna.

Perlu kita sadari bahwa apabila kita sedang mengucapkan sesuatu, tentu kita memahami apa yang kita ucapkan. Apa yang terjadi jika kita mengucapkan sesuatu tetapi kita sendiri tidak memahami apa yang kita ucapkan tersebut. Oleh sebab itu, saudaraku yang baik hati, memahami makna bacaan dalam shalat ini merupakan hal yang sangat penting dan prioritas utama untuk meraih khusyu’ dalam shalat.

Selanjutnya coba kita cermati tentang berbicara atau mengucapkan sesuatu. Apabila seseorang berbicara atau mengucapkan sesuatu, maka ada beberapa kemungkinan atas berbicara atau mengucapkan sesuatu tersebut, yaitu:

  1. Berbicara pada diri sendiri
  2. Berbicara dengan orang lain
  3. Berbicara dengan tumbuhan, hewan atau benda
  4. Berbicara dengan makhluk ghaib
  5. Berbicara dengan Allah SWT

Dari kelima kemungkinan tersebut, apabila seseorang berbicaranya atau mengucapkan sesuatu dalam shalat, maka yang memungkinkan adalah:

  1. Berbicara pada diri sendiri; ini terjadi pada orang awam yang tidak memahami makna shalat. Sehingga orang tersebut mengucapkan atau membaca bacaan shalat untuk dirinya sendiri.
  2. Berbicara dengan orang lain; ini terjadi pada seorang imam yang tidak memahami makna shalat. Dia mengucapkan atau membaca takbir, surat Al-Fatihah dan surat lain ditujukan atau diperdengarkan kepada makmum. Padahal seharusnya dipersembahkan ke hadirat Allah SWT.
  3. Berbicara dengan Allah SWT; inilah seharusnya bahwa kita mengucapkan atau membaca bacaan shalat dipersembahkan ke hadirat Allah SWT.

Mengucapkan atau membaca bacaan dalam shalat serasa berbicara degan Allah SWT memang cukup sulit untuk dicapai. Dibutuhkan latihan dan waktu yang cukup lama untuk mencapainya dan bukan berarti tidak bisa kalau Allah SWT telah memberikan pertolonganNya kepada kita. Berlatihlah dengan hati yang bersih, tulus dan bersungguh-sungguh.

Ucapkan bacaan shalat dan ucapan itu ditujukan kepada Allah SWT. Sehingga hati merasakan bahwa kita itu sedang bicara dengan Allah SWT. Misalnya ketika kita mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, coba kita rasakan dan yakini bahwa kita memang mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ke Allah SWT yang ada di atas arsy, bukan bicara pada diri sendiri. Sehingga setelah mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ tersebut, jika hati kita ditanya sudahkah engkau ucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ kepada Allah SWT ? Hati kita akan menjawab: ya sudah aku ucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ langsung kepada Allah SWT, hal ini karena hati kita memang telah melakukannya.

Misalnya, kita mendapat pesan dari teman yang bernama Ahmad, bahwa dia berpesan “jika nanti ada seseorang datang bernama Hamid menanyakan saya, tolong katakan kepadanya bahwa saya batal berangkat”. Ketika orang yang bernama Hamid datang, maka kita katakan kepada Hamid bahwa Ahmad batal berangkat. Selanjutnya, ketika Ahmad menanyakan apakah  sudah disampaikan pesannya kepada Hamid ? Tentu kita jawab “ya sudah disampaikan”. Kalo ditanya “apakah langsung disampaikan kepada Hamid ?” Tentu kita jawab “ya langsung kepada Hamid”.

Dari contoh di atas, mengapa kita katakan kepada Ahmad bahwa sudah kita sampaikan pesannya langsung kepada Hamid ? Tentu karena memang sudah kita katakan langsung kepada Hamid. Mengapa kita berani mengatakan bahwa sudah kita katakan langsung pesan Ahmad kepada Hamid ? Tentu karena kita sendiri yang melakukannya dan merasakannya bahwa memang kita bicara langsung kepada Hamid.

Demikianlah saudaraku yang baik hati untuk membuka pemahaman bagaimana agar ucapan/bacaan dalam shalat yang kita ucapkan benar-benar dirasakan oleh hati bahwa kita memang ucapan/bacaan dalam shalat itu adalah berbicara laungsung kepada Allah SWT. Sehingga ketika selesai shalat, hati ini akan merasa tenang dan damai. Betapa tidak, karena kita baru selesai berbicara langsung dengan pemilik alam semesta dan pemilik kehidupan dan penguasa akhirat. Ibarat seorang anak mempunyai keresahan hati, kemudian menemui ayahnya yang bijaksana, kemudian terjadi dialog antara anak dan ayah. Setelah selesai berdialog, anak tersebut hatinya tenang dan damai. Ketenangan dan kedamaian yang dirasakan sang anak adalah akibat dari yakinnya anak kepada ayahnya yang bijaksana.

Cara berbicara kepada Allah SWT dalam shalat adalah sebagaimana kita berzikir. Firman Allah SWT:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku [QS At-Thaha: 14]

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Artinya: Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai [QS Al-A’raf: 205]

Dalam surat At-Thaha ayat 14  dijelaskan bahwa shalat adalah untuk berzikir (mengingat) kepada Allah SWT. Dan di dalam Surat Al-A’raf  ayat 205 djelaskan bahwa dalam berdzikir (menyebut nama Allah SWT), Allah SWT mengatur caranya, yaitu:

  1. Merendahkan diri / menghinakan diri
  2. Ada rasa takut kepada Allah SWT pada saat melakukan dzikir (tidak terburu-buru)
  3. Tidak mengeraskan suara (suara berdzikir tidak dijaharkan, tetapi suara lirih yang hanya didengar oleh telinga sendiri)
  4. Hati tidak lalai pada saat berdzikir (hati hadir dan menghayati makna bacaan yang sedang diucapkan)

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka yang harus diperhatikan untuk mencapai kesempurnaan dalam mempersembahkan ucapan/bacaan shalat adalah:

  1. Pengucapan bacaan shalat dilakukan dengan merendahkan diri dan menghinakan diri dan ada rasa takut ke hadirat Allah SWT
  2. Ucapkan bacaan shalat dengan tajwid yang benar dan diucapkan dengan suara lirih dan perlahan-lahan serta tidak terburu-buru
  3. Yakinkan pada diri kita bahwa saat kita mengucapkan bacaan shalat sesungguhnya kita sedang berbicara langsung kepada Allah SWT dan Allah SWT mendengarnya. Bahkan pada saat kita membaca surat Al-Fatihah, Allah SWT menjawab setiap ayat yang kita baca. Nabi SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ هِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّي أَحْيَانًا أَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ قَالَ يَا ابْنَ الْفَارِسِيِّ فَاقْرَأْهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقْرَأُ الْعَبْدُ فَيَقُولُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي فَيَقُولُ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } فَيَقُولُ اللَّهُ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي فَيَقُولُ {  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } فَيَقُولُ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَهَذَا لِي وَبَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي {  إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } وَآخِرُ السُّورَةِ لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقُولُ {  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }

Artinya: Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat antara Aku dan hambaKu menjadi dua bagian, separuhnya untukKu dan separuhnya untuk hambaKu, dan hambaKu berhak mendapat yang ia meminta. Bila seorang hamba membaca ALHAMDULILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman; HambaKu memujiKu. Bila hamba membaca “ARRAHMAANIRRAHIIM,” Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “HambaKu memujaku.” Bila hamba membaca “MAALIKI YAWMIDDIIN, ” Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “HambaKu mengagungkanKu, dan ini untukKu, antara Aku dan hambaKu; IYYAAKA NA’BUDU WA IYYAAKA NASTA’IIN dan akhir surat untuk hambaKu dan hambaKu berhak mendapatkan yang ia minta, ia membaca: IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHARIL MAGHDLUUBI ‘ALAIHIM WALADL DLAALLIIN. [HR Tirmidzi]

  1. Hati hadir dan memahami setiap makna ucapan/bacaan yang diucapkan.
  2. Mempersembahkan ucapan/bacaan shalat ke hadirat Allah SWT sesuai dengan pemahaman makna dari bacaan yang sedang diucapkan.
  3. Tidak ada satupun bacaan shalat yang luput dari kehadiran hati dan luput dari persembahan ke hadirat Allah SWT.

Dalam mempersembahkan ucapan/bacaan shalat ini memang tidak mudah, karena disamping harus dilakukan seperti yang dijelaskan di atas, sesungguhnya selama kita melaksanakan shalat, syaitan yang bernama Khanzib atau Khanzab berupaya melakukan tipu daya dengan membisikkan sesuatu agar hati kita lalai terhadap apa yang sedang kita ucapkan. Nabi SAW bersabda:

إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قُضِيَ النِّدَاءُ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ وَيَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَضِلَّ الرَّجُلُ أَنْ يَدْرِيَ كَمْ صَلَّى

Artinya: Apabila telah diserukan panggilan (adzan) untuk shalat, maka setan mundur seraya mengeluarkan kentutnya hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan itu telah selesai, ia datang lagi. Ketika dibacakan iqamah shalat, ia membelakang lagi, sampai ketika pembacaan iqamah selesai, baru ia datang lagi, sehingga melintas (mengganggu) hati orang yang sedang shalat, dan ia berkata; Ingatlah ini, ingatlah ini!, ia mengingatkan sesuatu yang tidak di ingat ingatnya sebelum dia shalat, sampai orang itu keliru dan dia tidak tahu, sudah berapa rakaatkah shalat yang telah dia kerjakan. [HR Abu Daud]

Saudaraku yang baik hati, bisikan-bisikan dari syaitan yang bernama Khanzab terhadap orang yang sedang melakukan shalat, mengakibatkan orang yang melakukan shalat tersebut hatinya lalai dari apa yang sedang diucapkannya. Sehingga selama shalat hatinya yang khusyu’ hanya sepersepuluh atau sepersembilan dari waktu melaksanakan shalat. Seperti yang disabdakan oleh Nabi SAW:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَنَمَةَ الْمُزَنِيِّ عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Artinya: Dari Ammar bin Yasir RA, dia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang benar-benar selesai (shalat), tapi pahala shalat yang tercatat baginya hanyalah sepersepuluh shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga atau seperduanya. [Abu Daud]

Ibnu Abbas RA berkata “Kamu tidak akan mendapatkan apapun dari shalatmu, selain yang engkau pahami maknanya”.

Dengan adanya bisikan-bisikan dari syaitan pada saat shalat, hati yang seharusnya   menghayati   makna  bacaan  dan  mempersembahkan   makna  bacaan tersebut ke hadirat Allah SWT, justru berpaling dan lalai larut membahas apa-apa yang dibisikkan oleh syaitan tersebut. Misalnya pada saat membaca surat Al-Fatihah, di ayat pertama sampai keempat  masih  konsentrasi dengan  menghayati  makna  bacaan  dan  pada ayat kelima syaitan membisikkan bahwa kita punya janji ketemu dengan teman. Hati langsung menangkap bisikan itu dan membahas jam berapa janji ketemunya, janji dalam urusan apa, janji ketemu dimana dan seterusnya.

Saudaraku yang baik hati, jika kita simak contoh proses yang terjadi di atas, bahwa hati yang semula konsentrasi menghayati makna bacaan dan dipersembahkan ke hadirat Allah SWT, bergeser menjadi membahas tentang apa yang dibisikkan oleh syaitan dan dilanjutkan oleh hati untuk membahas lebih lanjut dan jika tidak dihentikan maka hati akan terus membahasnya hingga menjelang salam.

Dari contoh di atas, kita dapat mengidentifikasi atau mengenali mana yang khusyu’ dan mana yang lalai. Saudaraku yang baik hati, pahamilah hal berikut ini.

  1. Hati dikatakan khusyu’ apabila hati menghayati makna bacaan dan mempersembahkannya ke hadirat Allah SWT.
  2. Hati dikatakan tidak khusyu’ atau lalai jika hati melakukan pembahasan tentang di luar dari apa yang sedang diucapkan/dibaca.
  3. Pembeda antara khusyu’ dan tidak khusyu’ (lalai) hati seseorang yang sedang melaksanakan shalat adalah : khusyu’ berarti hati mempersembahkan bacaan dan tidak khusyu’ (lalai) hati melakukan pembahasan.