بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنْ شَاءَاللَّهُ website ini dapat membantu Saudaraku yang baik hati dalam meraih kekhusyu’an dalam shalat. آمين. Oleh karenanya, kami menganjurkan agar Saudaraku membacanya secara seksama dan tuntas. Dan Saudaraku tentu akan melanjutkan membaca tulisan ini jika Saudaraku merasa ada masalah dalam kekhusyu’an pada shalat dan ada keinginan untuk memperbaikinya.

Ketidak khusyu’an pada shalat kita itu diakbibatkan oleh masih ada yang salah di dalam shalat yang kita lakukan. Dan pengakuan diri bahwa masih adanya kesalahan ini cukup penting. Hal ini agar kita memberikan perhatian padanya dan termotivasi untuk mencari jawabannya. Dengan harapan, kesalahan yang ada akan diganti oleh ﷲ dengan petunjuk-petunjuk yang akan memperbaiki shalat kita.

Ingat Saudaraku, untuk meraih khusyu’ diperlukan kesungguhan dan kegigihan. Dan harus diyakini bahwa kekhusukan hanya dapat diraih hanya atas pertolongan ﷲ semata. إِنْ شَاءَاللَّهُ diujung kesungguhan yang kita lakukan dalam beramal shalih akan datang pertolongan dari ﷲ.

Perlu kita sadari bahwa masih banyak orang awam pada umumnya dalam beribadah tidak ilmiah (beramal tidak berdasarkan ilmu). Tidak menuntaskan dahulu ilmu sebuah amal, baru diamalkan. Sehingga amal yang dikerjakan masih ada kesalahan. Ditambah lagi dengan mengerjakan amal yang tidak maksimal dan tidak ada upaya melakukan suatu ibadah dilakukan sebaik mungkin dan seafdhol mungkin.
Contoh:
Kaum muslimin sangat sering melakukan zikir. Baik zikir mukayyad (ditentukan waktu dan jumlahnya) ataupun zikir mutlak (tidak ditentukan jumlah dan waktunya). Sudah bertahun bahkan sudah berpuluh-puluh tahun melakukan zikir. Apakah mereka sudah tahu tata cara berzikir ? Bukankah ﷲ telah memberikan tuntunan dalam berzikir yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-A’raf ayat 205:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Artinya : Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Melakukan zikir yang benar adalah :

  1. Menyebut nama ﷲ dalam hati (diresapi oleh hati)
  2. Dilakukan dgn merendahkan diri dihadapan ﷲ (penuh dgn adab kesopanan)
  3. Dilakukan dgn rasa takut kepada Allah (tidak terburu-buru, mengharap ridho ﷲ)
  4. Dilakukan dengan tidak mengeraskan suara (tidak dijaharkan)
  5. Dalam melakukan zikir hati tidak lalai dengan apa yang sedang dizikirkan.

Kaum muslimin banyak yang merasa shalatnya tidak khusyu’ dan sering datang ingatan-ingatan yang
lain sehingga pikiran dan ingatan melayang-layang. Dan disadari bahwa hal itu adalah gangguan dari syaitan.

Contoh lain, ketika shalat berjamaah di mesjid, pada saat imam menyerukan “luruskan dan rapatkan shaf”, shaf diluruskan tetapi kaki tidak mau merapat. Padahal merapatkan kaki jamaah sangat penting sesuai dengan hadist Nabi Saw:

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

Artinya:
Rapatkan shaf kalian, rapatkan barisan kalian, luruskan pundak dengan pundak. Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sungguh aku melihat setan masuk di sela-sela shaf, seperti anak kambing.” (HR. Abu Daud 667, Ibn Hibban 2166, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Jadi, orang yang kakinya tidak rapat dengan kaki orang yang disebelahnya pada waktu shalat berjamaah justru memberi tempat bagi syaitan untuk berada di celah yang ada.

Kedua contoh di atas membuktikan bahwa kurang tuntasnya pemahaman ilmu sebuah amal membuat terjadinya kesalahan-kesalahan pada amal tersebut dan akan berdampak pada nilai yang dihasilkan oleh amalan tersebut. Oleh sebab itu, mari kita biasakan menuntaskan dalam memahami setiap amalan yang akan kita kerjakan, agar amalan tersebut menjadi amal yang shalih yang akan berbuah kebaikan-kebaikan pada diri kita.

Ada beberapa hal yang menjadi dasar dalam meraih kekhusyu’an dalam shalat, antara lain:
1. Memahami syarat dan rukun shalat
2. Memahami makna setiap bacaan shalat
3. Mengenal ﷲ
4. Memahami interaksi diri kita kapada ﷲ pada waktu shalat
5. Memahami peran syaitan pada saat kita shalat

Kelima hal tersebut di atas akan diuraikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam sehingga mudah untuk dipahami.

Jika selama ini kita sulit memahami apa yang kita dengar atau kita baca tentang pembahasan shalat khusyu’, maka kami akan menyajikannya dengan bahasa yang mudah dipahami untuk dilakukan pada saat shalat.
Jika dari uraian yang disampaikan nantinya masih ada yang belum jelas atau belum difahami, Saudaraku dapat berkomunikasi dengan kami melalui media yang tersedia, atau berkunjung ke kediaman kami. Insya Allah kami akan berusaha untuk mereponnya dengan baik.

Kepada para ulama dan pemuka agama Islam yang saya muliakan, di sini kami dengan merendahkan hati memohon sudilah kiranya memberikan teguran ataupun masukan kepada kami yang miskin ilmu ini, jika ada ditemukan kesalahan ataupun penyimpangan dari apa yang kami sampaikan. Jika itu al-haq yang disampaikan, maka dengan senang dan besar hati kami akan menerimanya. Dan kami memang menyadari sepenuhnya bahwa kami membutuhkan bimbingan para ulama dan ingin terus belajar agama. Web ini kami buat semata-mata ingin memberikan sedikit manfaat bagi kaum muslimin terutama bagi yang bermasalah dengan kekhusyu’an dalam shalat.

Mudah-mudahan web ini menjadi jalan bagi Saudaraku menuju shalat yang lebih khusyu’ dan إِنْ شَاءَاللَّهُ menjadi amal jariyah bagi kami.

Jika Saudaraku yang baik hati sungguh-sungguh dalam maraih kekhusyu’an dalam shalat, suatu saat Saudaraku akan merasakan betapa nikmatnya, betapa indahnya dan betapa bahagianya hati Saudaraku ketika Saudaraku dalam shalat meneteskan air mata, ketika berzikir meneteskan air mata, ketika berdo’a kepada ﷲ menetes air mata. Sesungguhnya air mata yang menetes yang diperuntukkan kehadapan ﷲ  merupakan puncak kenikmatan bagi seorang hamba yang ingin mendakat kepada Tuhannya.

Jangan katakan sudah Khusyu’…..
1. Jika dalam shalat hatinya lalai.
2. Jika belum mengenal ﷲ
3. Jika belum pernah belajar shalat khusyu’.
4. Jika tidak tahu makna dari apa yang dibaca/diucapkan dalam shalat.
5. Jika dalam shalat masih ingat tentang aktivitas kehidupan.
6. Jika shalat belum sempurna tuma’ninahnya.
7. Jika bacaan dan gerakan shalatnya belum sesuai dengan tuntunan Nabi Saw
8. Jika masih sering melakukan maksiat
9. Jika masih mengkonsumsi makanan/minuman yang haram

Jangan merasa aman dan selamat jika dalam mengerjakan shalat belum khusyu’. Karena setiap orang yang mengerjakan shalat dinilai oleh ﷲ, sesuai dengan yang disabdakan Nabi Saw:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Artinya : Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.”[HR. Abu Daud no. 796 Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dalam mengerjakan shalat, khusyu’nya hanya 1/10 dari waktu shalatnya, atau hanya 1/9 atau hanya 1/8 dan seterusnya.

Bahkan ada orang shalat selama 60 tahun, tetapi tidak satupun shalatnya diterima oleh ﷲ, seperti yang dijelaskan dalam hadist Nabi Saw berikut ini.

إنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً مَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ، لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلَا يُتِمُّ السُّجُودَ ،وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ

Artinya : Sesungguhnya ada seseorang yang shalat selama 60 tahun, namun tidak diterima (oleh Allah) amalan shalatnya selama itu walau satu shalatpun. Boleh jadi (sebabnya) dia sempurnakan ruku’-nya tetapi sujudnya kurang sempurna, demikian pula sebaliknya” (Hadis Hasan, riwayat Ibn Abi Syaibah dari Abu Hurairah RA, Shahih al-Targhib, no. 596)

Oleh sebab itu, selama hayat masih dikandung badan, tanamkan tekad dan berazam untuk terus memperbaiki shalat. Karena shalatlah ibadah yang pertama dihisab di akhirat kelak. Seperti yang dijelaskan dalam hadist Nabi Saw:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ

Artinya : Sesungguhnya amal yang seorang hamba yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah shalatnya

Perlu diketahui bahwa setiap seseorang sedang mendirikan shalat, sesungguhnya disaat itu juga syaitan (Khanzab) sedang berjuang untuk mengganggunya dengan mengingat-ingatkan hal urusan dunia agar hati dan ingatan berpaling dari shalat.

Selamatkan diri kita dari tipu daya syaitan pada waktu mengerjakan shalat dengan memahami ilmunya. Yakinkan diri bahwa Saudaraku akan dibantu ﷲ dalam meraih khusyuk dalam shalat. “Barang siapa yang sungguh-sungguh  إِنْ شَاءَاللَّهُ akan mendapat apa yang diusahakannya”. مَنْ جَدَّ وَجَدَ

Saudaraku yang baik hati, ketahuilah bahwa barang siapa yang berniat untuk belajar shalat khusyu’, niscaya yang pertama sekali yang keberatan dan tidak rela dengan niat tersebut adalah SYAITAN. Karena sesungguhnya syaitan sangat tahu bahwa kalau orang tersebut shalatnya khusyu’, maka orang tersebut akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Sehingga syaitan akan berusaha dan berjuang untuk melakukan tipu daya kepada orang tersebut sampai orang tersebut membatalkan niatnya untuk belajar shalat khusyu’. 

Jika mendapat manfaat dari website ini, mohon share kepada sauadara kita yang lain. Bangunlah amal jariyah yang akan terus menyebar kepada ummat. Semoga semakin banyak orang yang shalatnya khusyu’ dan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. آمين.

________________________________________________
Sambutan dari Reviewer 1: Prof. Dr. KH. Saidurrahman, M.Ag. (Rektor UINSU)

(Dari Keluarga NU Nahdiyyin)

Assalâmu‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kepada Allah yang senantiasa melimpahkan Rahman dan Rahim-Nya bagi segenap makhluk di kesemestaan alam ini. Selawat dan salam senantiasa kita persembahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya.

Khusyu’ adalah ketika hati manusia menjadi lembut, ketika hasrat yang bersumber dari hawa nafsu menjadi redup dan halusnya hati karena Allah SWT. Sehingga menjadi bersih serta terhindar dari rasa sombong dan tinggi hati.

Meraih khusyu’ dalam shalat tentu idaman bagi setiap muslim, shalat yang dilakukan tanpa khusyu’ seakan tubuh yang hidup tanpa adanya ruh. Namun sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an bahwa shalat khusyu’ itu termasuk sesuatu yang berat namun bukan tidak mungkin untuk didapatkan.

Terbitnya buku Meraih Khusyu’ Dalam Shalat yang ditulis oleh Hamdan S.A ini, tentu menjadi kabar  gembira  bagi kita yang merindukan shalat khusyu’. Buku yang  ditulis berdasarkan teori-teori dari para ulama dan dikombinasikan dengan hasil penelitian serta pengalaman spiritual beliau selama belasan tahun dalam melaksanakan shalat ini, akan menuntun kita untuk lebih dekat dengan Allah melalui pengenalan dan pendalaman tauhid dan kemudian kita akan dihantarkan dengan bimbingan shalat khusyu’ secara praktis.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat membaca buku ini, semoga isi kandungan yang teruraikan di dalamnya menghantarkan kita meraih shalat yang khusyu’ dan semoga buku ini menjadi amal jariyah bagi penulis di dunia dan akhirat. Aaamiin.

Wassalâmu‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Medan, 21 April 2020

Prof. Dr. KH. SAIDURRAHMAN, M.Ag.
Rektor UIN Sumatera Utara

___________________________________________________
Sambutan dari Reviewer 2: Prof. Dr. H. Ali Yakub Matondang, MA
(Dari Keluarga Muhammadiyah)

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’in, ‘ala umurid dun’ya wad din. Was shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursalin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmi’in.  

Amma ba’du.

Buku Meraih Khusyu’ Dalam Shalat karya Hamdan S.A telah saya baca secara keseluruhan. Buku ini terdiri dari lima bab, dimulai dari mengenal Allah, berwudhuk, dan tuntunan shalat. Kemudian dilanjutkan dengan defenisi khusyu’ dan tingkatan orang yang shalat, evaluasi diri dan meraih khusyu’ dalam shalat. Kelihatannya, pengarang dalam menyusun buku ini memiliki niat yang tulus dan upaya yang sungguh-sungguh serta berbasis penelitian yang cukup lama. Sehingga buku ini memiliki ciri dan spesifik tersendiri dibandingkan dengan buku-buku lainnya. Karena itu, sudah pada tempatnya, kehadiran buku ini disambut dengan ucapaan alhamdu lillah, dengan harapan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin.

Di dalam Al-Qur’an, kata khusyu’ dan tashrifnya terdapat 16 (enam belas) surah tersebut pada 11 (sebelas) surah Makkiyah dan 5 (lima) surah Madaniyah. Ayat-ayat Makkiyah terdapat dalam surah Thaha : 108, al-Isra’ : 109, al-Mukminun : 2, al-Anbiya’ : 90, as-Syura : 45, al-Qamar : 7, Fushshilat : 39, al-Qalam : 43, al-Ma’arij : 44, an-Nazi’at : 9, al-Ghasyiyah : 2. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah terdapat dalam surat al-Hadid : 16, al-Hasyar : 21, al-Baqarah : 45, Ali-Imran : 199 dan al-Ahzab : 35.

Khusyu’ pada ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan sifat dan kondisi orang yang beriman. Khusyu’ juga membicarakan ha yang terkait dengan kehidupan duniawi bagi ummat beriman di mana mereka khusyu’ dalam shalat dan qalbu mereka selalu khusyu’ mengingat Allah. Demikian juga, khusyu’ berbicara dalam konteks dan kehidupan yaumil akhir, di mana semua suara merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Hal ini mengisyaratkan bagaimana luasnya penggunaan makna khusyu’ dalam al-Qur’an serta pentingnya khusyu’ dalam kehidupan ummat beriman.

Pengarang buku ini berupaya secara spesifik untuk menganalisis khusyu’ khusus dalam shalat. Diawali dengan pembahasan mengenal Allah atau kajian Tauhid yang merupakan kajian ushul ad-din (dasar/pokok agama). Dalam konteks ini, kelihatan pengarang ingin menyadarkan ummat bagaimana pentingnya landasan tauhid dalam setiap aktifitas manusia baik yang terkait dengan hablum minallah (ibadah khassah) maupun yang terkait hablum minannas (ibadah ‘ammah). Karena itu, kegiatan apapun yang dilakukan tidak terlepas dari basis tauhid. Inilah yang menjadikan amal atau kegiatan bersifat abadi yang disebut dengan istilah al-baqiyat as-sholihat (kebaikan-kebaikan abadi) dalam al-Qur’an. Kebaikan-kebaikan abadi lebih baik pahalanya di sisi Allah serta lebih baik menjadi harapan (lihat al-Qur’an surah al-Kahfi : 46).

Meraih khusyu’ dalam shalat merupakan bab akhir dalam buku ini. Esensinya, apabila khusyu’ telah diraih, maka dampaknya akan kelihatan dalam sikap dan tingkah laku keseharian. Sehingga shalat yang dilakukan berimplikasi positif dan fungsional dalam melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Dalam surah al-Ankabut: 45, Allah berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya: Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.

Bagaimanapun juga, kehadiran buku ini telah memperbanyak literatur yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga menjadi amal jariyah bagi pengarang beserta keluarga serta orang-orang yang terlibat dan memberikan dukungan terbitnya buku ini. Aaamiin.

Medan, 12 Jumadil Ula 1441 H / 7 Januari 2020 M