Month: January 2020
-

(7). Hati Bergetar Dan Menangis Dalam Shalat
Saudaraku yang baik hati, mungkin kita pernah merasakan hati bergetar pada saat mendengar kalimat Allah atau lantunan ayat suci Al-Qur’an. Apakah kita mendengar pada saat dalam melaksanakan shalat atau di luar shalat ? Jika hati kita bergetar karena mendengar kalimat Allah atau lantunan ayat suci Al-Qur’an, itu sebagai bukti bahwa kita adalah orang yang beriman.…
-

(6). Hal-Hal Yang Dapat Meningkatkan Kekhusyu’an Dalam Shalat
Saudaraku yang baik hati, setelah kita merasakan kekhusyu’an dalam shalat walau masih sedikit, kita harus berusaha agar rasa khusyu’ tersebut terus meningkat. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rasa khusyu’ dalam shalat antara lain: 1. Mengenal Allah SWT Saudaraku yang baik hati, bukankah shalat itu proses komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah SWT.…
-

(5). Mensyukuri Rasa Khusyu’
Bagi saudaraku yang baik hati yang belum merasakan rasanya khusyu’ dalam shalat, berikut adalah contoh rasa khusyu’. Bagi saudaraku yang salah satu atau kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Coba diingat, pada saat mayat sudah dikafani dan mayat ada di depan kita. Lalu kita mengadahkan tangan seraya mendo’akannya. Pada saat kita menyebut “Ya Allah, ampunilah…
-

(4). Cara Menuju Khusyu
Saudaraku yang baik hati, setelah memahami makna khusyu’, perbedaan hati yang khusyu’ dengan hati yang lalai, selanjutnya adalah memahami cara menuju khusyu dalam shalat. Dengan kata lain, menyelamatkan diri dari bisikan-bisikan syaitan Khanzab ketika shalat. Namun harus kita sadari bahwa khusyu’ dapat diraih semata-mata atas izin dan pertolongan dari Allah SWT. Oleh sebab itu, untuk…
-

(3). Cara Mempersembahkan Dalam Shalat
Saudaraku yang baik hati, setelah memahami makna shalat dan menyadari bahwa selama shalat Allah SWt melihat dan mendengar orang yang shalat. Selanjutnya adalah memahami cara mempersembahkan dalam shalat. Bagi saudaraku yang masih awam dengan masalah khusyu’ dalam shalat, cara mempersembahkan dalam shalat adalah hal yang sangat penting dan merupakan titik penentu jalan menuju khusyu’ dalam…
-

(4). Tata Cara Shalat
Saudaraku yang baik hati, setelah kita ketahui rukun dalam shalat, selanjutnya kita membahas tata cara shalat sesuai tuntunan Nabi SAW. Sesuai dengan hadist Nabi SAW : صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي Artinya: Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat [HR Bukhari] Tata cara shalat adalah sebagai berikut: 1. Berwudhu’ sebelum shalat Dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 6…
-

(3). Rukun Shalat
Rukun menurut bahasa mempunyai arti bagian yang paling kuat, bagian dimana sebuah bangunan tidak dapat berdiri dengan sempurna tanpa dia. Dinamakan rukun shalat untuk menyerupai tiang bagi rumah, dimana rumah tidak dapat berdiri kecuali dengannya. Adapun menurut istilah, rukun adalah: Inti yang merupakan bagian dari sesuatu tersebut, dan sesuatu tersebut tidak akan dikatakan ada kecuali…
-

(2). Syarat Shalat
Syarat (الشَّرْطِ) menurut bahasa bermakna tanda. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an dalam surat Muhammad: فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا Artinya: Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya [QS Muahmmad: 18) Sedangkan menurut istilah, syarat mempunyai makna: Artinya:…
-

(1). Evaluasi Diri (Muhasabah)
Saudaraku yang baik hati, evaluasi diri yang dimaksud adalah meninjau kembali atas pemahaman dan amalan yang selama ini yang kita kerjakan. Hal ini sangat penting untuk perbaikan diri kita. Dalam mengevaluasi diri ini dituntut kejujuran pada diri sendiri. Betapa banyak saudara kita yang merasa wudhu’ dan shalatnya sudah benar, tetapi begitu dievaluasi ternyata masih banyak…
-

(2). Tingkatan Orang Yang Shalat
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah رَحِمَهُ اللهُ di dalam kitabnya “Syarh al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalimi ath-Thayyib” mengklasifikasikan orang yang mengerjakan shalat ke dalam lima tingkatan, yaitu: Tingkatan pertama adalah mua’qab (disiksa). Tingkatan ini merupakan tingkatan orang yang dzalim dan menganggap shalat sesuatu hal yang sepele sehingga merugikan diri sendiri. Golongan orang seperti ini adalah seseorang yang…